RESENSI BUKU METPEN
Label: Metodologi Penelitian | di 17.59
Nama : Khoirini Robiatul Adzawiyah
NIM : 1211600060
Kelas : II/B Psikologi
Mata Kuliah :
Metodologi Penelitian
RESENSI BUKU
Judul Buku :
Metodologi
Penelitian Bisnis
Penulis :
Dra.
Murti Sumarni, MM dan Dra. Salamah Wahyuni, SU
Penerbit :
ANDI Yogyakarta
Tahun Terbit : 2006
Jumlah Halaman : 175 hlm
Isi Buku:
Perkembangan lingkungan
bisnis dengan perubahan teknologi yang semakin inovatif ke arah komunikasi
global menuntut pengambilan keputusan bisnis yang dapat dipertanggungjawabkan.
Salah satu dukungan informasi akurat untuk mengambil keputusan adalah hasil
penelitian atau riset ilmiah. Hasil penelitian yang diperlukan untuk mengambil
keputusan bisnis berasal dari penelitian terapan dan penelitian murni atau
dasar.
Penelitian
bisnis (business research) merupakan
penyelidikan sistematis yang memberikan informasi untuk membantu mengambil
keputusan di bidang bisnis (Cooper dan Pamela, 2001).
Syarat-syarat
penelitian bisnis yaitu : 1) Bersifat objektif dan faktual berdasarkan data
empiris, 2) mendalam, 3) berdasarkan asumsi yang relatif dan dapat berubah, 4)
merupakan suatu sistem yang terintegrasi dengan ilmu lainnya, 5) mengikuti
perkembangan ilmu dan teknologi.
Karakteristik
penelitian bisnis sebagai berikut : 1) Masalah dan tujuan dirumuskan dengan
jelas, spesifik, dan fokus pada problematika, 2) prosedur penelitian diuraikan
secara rinci, 3) pengambilan data secara hati-hati dan teliti, 4) menggunakan
metode analisis data yang tepat, 5) kesimpulan harus diperoleh melalui
penelitian, 6) manyusun laporan penelitian yang lengkap, 7) penelitian
dilakukan oleh peneliti yang berpengalaman dan punya reputasi.
Peneliti perlu
mendapatkan persetujuan resmi dari responden mengenai rancangan penelitian,
tujuan, dan alasan penelitian. Bagi peneliti bidang bisnis persetujuan dapat
dilakukan secara lisan.
Dasar-dasar
penelitian ilmiah terdiri dari proses berpikir, sikap ilmiah, konsep dan
konsepsi, variabel dan hubungan antar variabel penelitian, operasional dan
kerangka berpikir, peranan teori dalam penelitian, perumusan masalah penelitian
dan hipotesis.
Sifat penelitian
ilmiah, yaitu memiliki sikap skeptis, analitis dan kritis. Syarat penelitian
ilmiah dapat di tempuh dengan cara sistematis, berencana dan mengikuti konsep
ilmiah.
Proposal
penelitian merupakan suatu rencana kerja, prospektus, garis besar atau konsep
kerja suatu penelitian. Struktur proses penelitian terdiri dari judul
penelitian, dasar pemikiran dan latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan
penelitian, manfaat penelitian, tinjauan pustaka, kerangka pikir, hipotesis dan
anggapan dasar, desain penelitian, analisis data, personel penelitian dan
kualifikasinya, anggaran, jadwal dan bibliografi atau daftar pustaka.
Desain
penelitian merupakan perencanaan, struktur, dan strategi penelitian dalam
rangka menjawab pertanyaan dan mengendalikan penyimpangan yang mungkin terjadi.
Pengukuran
merupakan pemberian tanda berupa angka atau simbol untuk suatu fenomena
empirsis dengan satu atau beberapa kriteria tertentu. Yang diukur dapat berupa
objek berupa benda atau yang konkret dan karakteristik berupa ciri-ciri objek
baik fisik, sosial amupun psikologis. Ada empat skala pengukuran, yakni
nominal, ordinal, interval, dan rasio. Teknik skala yang seringa digunakan,
yaitu rating scale (skala penilaian)
dan ranking scale (skala ranking).
Ada tiga kiteria untuk mengevaluasi suatu alat ukur, yakni validitas,
reliabilitas dan kepraktisan.
Populasi adalah
keseluruhan objek. Sampel adalah bagian populasi untuk memperkirakan
karakteristik populasi. kerangka sampel adalah daftar semua unsur yang ada
dalam populasi. Sampel harus valid dan validitas sampel tergantung pada dua
hal, yaitu akurasi dan ketelitian. Metode pengambilan sampel dikelompokan
menjadi dua cara, yaitu probability
sampling (random sampling) dan nonprobability
sampling (sampling nonprobabilitas).
Pengumpulan data
dapat menggunakan sumber primer contohnya wawancara dan observasi, dan sumber
sekunder misalkan melaui dokumen atau arsip contohnya kuesioner ( angket).
Sesudah data
dikumpulkan, yang harus dilakukan yaitu, pemeriksaan data ( editing), pembuatan
code (coding), penyusunan tabel (tabulasi). Analisis dibagi menjadi dua yaitu,
analisis data deskriptif dan analisis kualitatif. Dalam statistik, hipotesis
yang diuji adalah hipotesis nol (Ho). Hipotesis nol (Ho) merupakan pernyataan
tidak adanya perbedaan antara parameter dan statistik (sampel). Sebaliknya, di
lain pihak ada hipotesis alternatif (Ha) yang menyatakan bahwa ada perbedaan
antara parameter dan statistik (Emory, 1996).
Langkah umum dalam
pengujian hipotesis yaitu, menentukan formulasi Ho dan Ha, menetukan alternatif
pengujian: dua arah atau satu arah, menentukan level significance (α),
menetukan kriteria pengujian: daerah penerimaan atau penolakan, penetuan nilai
Z (sampel ≥ 30) atau t (sampel < 30) berdasarkan distribusi samplingnya, dan
kesimpulan (keputusan pengujian).
Laporan
penelitian merupakan laporan ilmiah, maka harus dibuat secara sistematis, logis
dan konsisten antar bab atau bagian sehingga mudah dipahami pembaca langakah-langkah
dalam proses penelitian yang telah dilaksanakan. Penulisan laporan
diklasifikasikan dalam bentuk penelitain informal (short report) dan penelitian
formal (long report).
Contoh format
laporan penelitian terdiri dari: halaman judul, kata pengantar, daftar isi,
tabel, gambar dan lampiran, sinopsis, pendahuluan, manfaat penelitian, batasan
masalah, kerangka berpikir, hipotesis, metode penelitian, teknik analisis data,
landasan teori, hasil penelitian dan pembahasan, kesimpulan dan saran, daftar
pustaka, contoh kaki dna kutipan, lampiran.
Kekurangan Buku:
- Cover
kurang menarik
Kelebihan Buku:
- Penggunaan
kata dan kalimat sangat tepat dan mudah dipahami
- Menggunakan
bahasa dan contoh sederhana yang mudah dipahami
- Menyajikan
secara lengkap dan sistematis langkah-langkah penelitian bisnis
- Tiap
bab di jelaskan secara rinci
Kritik: cover kurang menarik padahal dalam
materi sangat bagus dan sangat mudah dipahami.
Saran: Dalam cover coba buat lebih menarik lagi
agar pembaca pun lebih tertarik.
Robiah Adawiyah
| di 17.53
Rabi’ah binti Ismail al-Adawiyah tergolong wanita sufi yang terkenal dalam sejarah Islam. Dia dilahirkan sekitar awal kurun kedua Hijrah berhampiran kota Basrah di Iraq. Dia lahir dalam sebuah keluarga yang miskin dari segi kebendaan namun kaya dengan peribadatan kepada Allah. Ayahnya pula hanya bekerja mengangkut penumpang menyeberangi Sungai Dijlah dengan menggunakan sampan.
Pada akhir kurun pertama Hijrah, keadaan hidup masyarakat Islam dalam pemerintahan Bani Umaiyah yang sebelumnya terkenal dengan ketaqwaan telah mulai berubah. Pergaulan semakin bebas dan orang ramai berlumba-lumba mencari kekayaan. Justru itu kejahatan dan maksiat tersebar luas. Pekerjaan menyanyi, menari dan berhibur semakin diagung-agungkan. Maka ketajaman iman mulai tumpul dan zaman hidup wara’ serta zuhud hampir lenyap sama sekali.
Namun begitu, Allah telah memelihara sebilangan kaum Muslimin agar tidak terjerumus ke dalam fitnah tersebut. Pada masa itulah muncul satu gerakan baru yang dinamakan Tasawuf Islami yang dipimpin oleh Hasan al-Bashri. Pengikutnya terdiri daripada lelaki dan wanita. Mereka menghabiskan masa dan tenaga untuk mendidik jiwa dan rohani mengatasi segala tuntutan hawa nafu demi mendekatkan diri kepada Allah sebagai hamba yang benar-benar taat.
Bapa Rabi’ah merupakan hamba yang sangat bertaqwa, tersingkir daripada kemewahan dunia dan tidak pernah letih bersyukur kepada Allah. Dia mendidik anak perempuannya menjadi muslimah yang berjiwa bersih. Pendidikan yang diberikannya bersumberkan al-Quran semata-mata. Natijahnya Rabi’ah sendiri begitu gemar membaca dan menghayati isi al-Quran sehigga berjaya menghafal kandungan al-Quran. Sejak kecil lagi Rabi’ah sememangnya berjiwa halus, mempunyai keyakinan yang tinggi serta keimanan yang mendalam.
Menjelang kedewasaannya, kehidupannya menjadi serba sempit. Keadaan itu semakin buruk setelah beliau ditinggalkan ayah dan ibunya. Rabi’ah juga tidak terkecuali daripada ujian yang bertujuan membuktikan keteguhan iman. Ada riwayat yang mengatakan beliau telah terjebak dalam kancah maksiat. Namun dengan limpah hidayah Allah, dengan asas keimanan yang belum padam di hatinya, dia dipermudahkan oleh Allah untuk kembali bertaubat. Babak-babak taubat inilah yang mungkin dapat menyedar serta mendorong hati kita merasai cara yang sepatutnya seorang hamba brgantung harap kepada belas ihsan Tuhannya.
Marilah kita teliti ucapan Rabi’ah sewaktu kesunyian di ketenangan malam ketika bermunajat kepada Allah:
“Ya Allah, ya Tuhanku. Aku berlindung diri kepada Engkau daripada segala yang ada yang boleh memesongkan diri daripada-Mu, daripada segala pendinding yang boleh mendinding antara aku dengan Engkau!
“Tuhanku! bintang-bintang telah menjelma indah, mata telah tidur nyenyak, semua pemilik telah menutup pintunya dan inilah dudukku di hadapan-Mu.
“Tuhanku! Tiada kudengar suara binatang yang mengaum, tiada desiran pohon yang bergeser, tiada desiran air yang mengalir, tiada siulan burung yang menyanyi, tiada nikmatnya teduhan yang melindungi, tiada tiupan angin yang nyaman, tiada dentuman guruh yang menakutkan melainkan aku dapati semua itu menjadi bukti keEsaan-Mu dan menunjukkan tiada sesuatu yang menyamai-Mu.
“Sekelian manusia telah tidur dan semua orang telah lalai dengan asyik maksyuknya. Yang tinggal hanya Rabi’ah yang banyak kesalahan di hadapan-Mu. Maka moga-moga Engkau berikan suatu pandangan kepadanya yang akan menahannya daripada tidur supaya dia dapat berkhidmat kepada-Mu.”
Rabi’ah juga pernah meraung memohon belas ihsan Allah SWT:
“Tuhanku! Engkau akan mendekatkan orang yang dekat di dalam kesunyian kepada keagungan-Mu. Semua ikan di laut bertasbih di dalam lautan yang mendalam dan kerana kebesaran kesucian-Mu, ombak di laut bertepukan. Engkaulah Tuhan yang sujud kepada-Nya malam yang gelap, siang yang terang, falak yang bulat, bulan yang menerangi, bintang yang berkerdipan dan setiap sesuatu di sisi-Mu dengan takdir sebab Engkaulah Tuhan Yang Maha Tinggi lagi Maha Perkasa.”
Setiap malam begitulah keadaan Rabi’ah. Apabila fajar menyinsing, Rabi’ah terus juga bermunajat dengan ungkapan seperti:
“Wahai Tuhanku! Malam yang akan pergi dan siang pula akan mengganti. Wahai malangnya diri! Apakah Engkau akan menerima malamku ini supaya aku berasa bahagia ataupun Engkau akan menolaknya maka aku diberikan takziah? Demi kemuliaan-Mu, jadikanlah caraku ini kekal selama Engkau menghidupkan aku dan bantulah aku di atasnya. Demi kemuliaan-Mu, jika Engkau menghalauku daripada pintu-Mu itu, nescaya aku akan tetap tidak bergerak juga dari situ disebabkan hatiku sangat cinta kepada-Mu.”
Seperkara menarik tentang diri Rabi’ah ialah dia menolak lamaran untuk berkahwin dengan alasan:
“Perkahwinan itu memang perlu bagi sesiapa yang mempunyai pilihan. Adapun aku tiada mempunyai pilihan untuk diriku. Aku adalah milik Tuhanku dan di bawah perintah-Nya. Aku tidak mempunyai apa-apa pun.”
Rabi’ah seolah-olah tidak mengenali yang lain daripada Allah. Oleh itu dia terus-menerus mencintai Allah semata-mata. Dia tidak mempunyai tujuan lain kecuali untuk mencapai keredaan Allah. Rabi’ah telah mempertalikan akalnya, pemikirannya dan perasaannya hanya kepada akhirat semata-mata. Dia sentiasa meletakkan kain kapannya di hadapannya dan sentiasa membelek-beleknya setiap hari.
Selama 30 tahun dia terus-menerus mengulangi kata-kata ini dalam sembahyangnya:
“Ya Tuhanku! Tenggelamkanlah aku di dalam kecintaan-Mu supaya tiada suatupun yang dapat memalingkan aku daripada-Mu.”
Antara syairnya yang masyhur berbunyi:
“Kekasihku tiada menyamai kekasih lain biar bagaimanapun,
Tiada selain Dia di dalam hatiku mempunyai tempat manapun,
Kekasihku ghaib daripada penglihatanku dan peribadiku sekalipun,
Akan tetapi Dia tidak pernah ghaib di dalam hatiku walau sedetik pun.”
Rabi’ah telah membentuk satu cara yang luar biasa di dalam mencintai Allah. Dia menjadikan kecintaan pada Ilahi itu sebagai satu cara untuk membersihkan hati dan jiwa. Dia memulakan fahaman sufinya dengan menanamkan rasa takut kepada kemurkaan Allah seperti yang pernah diluahkannya:
“Wahai Tuhanku! Apakah Engkau akan membakar dengan api hati yang mencintai-Mu dan lisan yang menyebut-Mu dan hamba yang takut kepada-Mu?”
Kecintaan Rabi’ah kepada Allah berjaya melewati pengharapan untuk beroleh syurga Allah semata-mata.
“Jika aku menyembah-Mu kerana takut daripada api neraka-Mu maka bakarlah aku di dalamnya! Dan jika aku menyembah-Mu kerana tamak kepada syurga-Mu maka haramkanlah aku daripadanya! Tetapi jika aku menyembah-Mu kerana kecintaanku kepada-Mu maka berikanlah aku balasan yang besar, berilah aku melihat wajah-Mu yang Maha Besar dan Maha Mulia itu.”
Begitulah keadaan kehidupan Rabi’ah yang ditakdirkan Allah untuk diuji dengan keimanan serta kecintaan kepada-Nya. Rabi’ah meninggal dunia pada 135 Hijrah iaitu ketika usianya menjangkau 80 tahun. Moga-moga Allah meredainya, amin!
Sekarang mari kita tinjau diri sendiri pula. Adakah kita menyedari satu hakikat yang disebut oleh Allah di dalam Surah Ali Imran, ayat 142 yang bermaksud:
“Apakah kamu mengira bahawa kamu akan masuk syurga padahal belum nyata bagi Allah orang yang berjihad di antaramu dan belum nyata orang yang sabar.”
Bagaimana perasaan kita apabila insan yang kita kasihi menyinggung perasaan kita? Adakah kita terus berkecil hati dan meletakkan kesalahan kepada insan berkenaan? Tidak terlintaskah untuk merasakan di dalam hati seumpama ini:
“Ya Allah! Ampunilah aku. Sesungguhnya hanya Engkau yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Hanya kasih-Mu yang abadi dan hanya hidup di sisi-Mu sahaja yang berkekalan. Selamatkanlah aku daripada tipu daya yang mengasyikkan.”
Sesungguhnya apa juga lintasan hati dan luahan rasa yang tercetus daripada kita bergantung kepada cara hati kita berhubung dengan Allah. Semakin kita kenali keluhuran cinta kepada Allah, maka bertambah erat pergantungan hati kita kepada Allah serta melahirkan keyakinan cinta dan kasih yang sentiasa subur.
Lanjutan itu jiwa kita tidak mudah berasa kecewa dengan gelagat sesama insan yang pelbagai ragam. Keadaan begini sebenarnya terlebih dahulu perlu dipupuk dengan melihat serta merenungi alam yang terbentang luas ini sebagai anugerah besar daripada Allah untuk maslahat kehidupan manusia. Kemudian cubalah hitung betapa banyaknya nikmat Allah kepada kita.
Dengan itu kita akan sedar bahawa kita sebenarnya hanya bergantung kepada Allah. Bermula dari sini kita akan mampu membina perasaan cinta terhadap Allah yang kemudian mesti diperkukuhkan dengan mencintai titah perintah Allah. Mudah-mudahan nanti kita juga akan menjadi perindu cinta Allah yang kekal abadi.
Namun begitu, Allah telah memelihara sebilangan kaum Muslimin agar tidak terjerumus ke dalam fitnah tersebut. Pada masa itulah muncul satu gerakan baru yang dinamakan Tasawuf Islami yang dipimpin oleh Hasan al-Bashri. Pengikutnya terdiri daripada lelaki dan wanita. Mereka menghabiskan masa dan tenaga untuk mendidik jiwa dan rohani mengatasi segala tuntutan hawa nafu demi mendekatkan diri kepada Allah sebagai hamba yang benar-benar taat.
Bapa Rabi’ah merupakan hamba yang sangat bertaqwa, tersingkir daripada kemewahan dunia dan tidak pernah letih bersyukur kepada Allah. Dia mendidik anak perempuannya menjadi muslimah yang berjiwa bersih. Pendidikan yang diberikannya bersumberkan al-Quran semata-mata. Natijahnya Rabi’ah sendiri begitu gemar membaca dan menghayati isi al-Quran sehigga berjaya menghafal kandungan al-Quran. Sejak kecil lagi Rabi’ah sememangnya berjiwa halus, mempunyai keyakinan yang tinggi serta keimanan yang mendalam.
Menjelang kedewasaannya, kehidupannya menjadi serba sempit. Keadaan itu semakin buruk setelah beliau ditinggalkan ayah dan ibunya. Rabi’ah juga tidak terkecuali daripada ujian yang bertujuan membuktikan keteguhan iman. Ada riwayat yang mengatakan beliau telah terjebak dalam kancah maksiat. Namun dengan limpah hidayah Allah, dengan asas keimanan yang belum padam di hatinya, dia dipermudahkan oleh Allah untuk kembali bertaubat. Babak-babak taubat inilah yang mungkin dapat menyedar serta mendorong hati kita merasai cara yang sepatutnya seorang hamba brgantung harap kepada belas ihsan Tuhannya.
Marilah kita teliti ucapan Rabi’ah sewaktu kesunyian di ketenangan malam ketika bermunajat kepada Allah:
“Ya Allah, ya Tuhanku. Aku berlindung diri kepada Engkau daripada segala yang ada yang boleh memesongkan diri daripada-Mu, daripada segala pendinding yang boleh mendinding antara aku dengan Engkau!
“Tuhanku! bintang-bintang telah menjelma indah, mata telah tidur nyenyak, semua pemilik telah menutup pintunya dan inilah dudukku di hadapan-Mu.
“Tuhanku! Tiada kudengar suara binatang yang mengaum, tiada desiran pohon yang bergeser, tiada desiran air yang mengalir, tiada siulan burung yang menyanyi, tiada nikmatnya teduhan yang melindungi, tiada tiupan angin yang nyaman, tiada dentuman guruh yang menakutkan melainkan aku dapati semua itu menjadi bukti keEsaan-Mu dan menunjukkan tiada sesuatu yang menyamai-Mu.
“Sekelian manusia telah tidur dan semua orang telah lalai dengan asyik maksyuknya. Yang tinggal hanya Rabi’ah yang banyak kesalahan di hadapan-Mu. Maka moga-moga Engkau berikan suatu pandangan kepadanya yang akan menahannya daripada tidur supaya dia dapat berkhidmat kepada-Mu.”
Rabi’ah juga pernah meraung memohon belas ihsan Allah SWT:
“Tuhanku! Engkau akan mendekatkan orang yang dekat di dalam kesunyian kepada keagungan-Mu. Semua ikan di laut bertasbih di dalam lautan yang mendalam dan kerana kebesaran kesucian-Mu, ombak di laut bertepukan. Engkaulah Tuhan yang sujud kepada-Nya malam yang gelap, siang yang terang, falak yang bulat, bulan yang menerangi, bintang yang berkerdipan dan setiap sesuatu di sisi-Mu dengan takdir sebab Engkaulah Tuhan Yang Maha Tinggi lagi Maha Perkasa.”
Setiap malam begitulah keadaan Rabi’ah. Apabila fajar menyinsing, Rabi’ah terus juga bermunajat dengan ungkapan seperti:
“Wahai Tuhanku! Malam yang akan pergi dan siang pula akan mengganti. Wahai malangnya diri! Apakah Engkau akan menerima malamku ini supaya aku berasa bahagia ataupun Engkau akan menolaknya maka aku diberikan takziah? Demi kemuliaan-Mu, jadikanlah caraku ini kekal selama Engkau menghidupkan aku dan bantulah aku di atasnya. Demi kemuliaan-Mu, jika Engkau menghalauku daripada pintu-Mu itu, nescaya aku akan tetap tidak bergerak juga dari situ disebabkan hatiku sangat cinta kepada-Mu.”
Seperkara menarik tentang diri Rabi’ah ialah dia menolak lamaran untuk berkahwin dengan alasan:
“Perkahwinan itu memang perlu bagi sesiapa yang mempunyai pilihan. Adapun aku tiada mempunyai pilihan untuk diriku. Aku adalah milik Tuhanku dan di bawah perintah-Nya. Aku tidak mempunyai apa-apa pun.”
Rabi’ah seolah-olah tidak mengenali yang lain daripada Allah. Oleh itu dia terus-menerus mencintai Allah semata-mata. Dia tidak mempunyai tujuan lain kecuali untuk mencapai keredaan Allah. Rabi’ah telah mempertalikan akalnya, pemikirannya dan perasaannya hanya kepada akhirat semata-mata. Dia sentiasa meletakkan kain kapannya di hadapannya dan sentiasa membelek-beleknya setiap hari.
Selama 30 tahun dia terus-menerus mengulangi kata-kata ini dalam sembahyangnya:
“Ya Tuhanku! Tenggelamkanlah aku di dalam kecintaan-Mu supaya tiada suatupun yang dapat memalingkan aku daripada-Mu.”
Antara syairnya yang masyhur berbunyi:
“Kekasihku tiada menyamai kekasih lain biar bagaimanapun,
Tiada selain Dia di dalam hatiku mempunyai tempat manapun,
Kekasihku ghaib daripada penglihatanku dan peribadiku sekalipun,
Akan tetapi Dia tidak pernah ghaib di dalam hatiku walau sedetik pun.”
Rabi’ah telah membentuk satu cara yang luar biasa di dalam mencintai Allah. Dia menjadikan kecintaan pada Ilahi itu sebagai satu cara untuk membersihkan hati dan jiwa. Dia memulakan fahaman sufinya dengan menanamkan rasa takut kepada kemurkaan Allah seperti yang pernah diluahkannya:
“Wahai Tuhanku! Apakah Engkau akan membakar dengan api hati yang mencintai-Mu dan lisan yang menyebut-Mu dan hamba yang takut kepada-Mu?”
Kecintaan Rabi’ah kepada Allah berjaya melewati pengharapan untuk beroleh syurga Allah semata-mata.
“Jika aku menyembah-Mu kerana takut daripada api neraka-Mu maka bakarlah aku di dalamnya! Dan jika aku menyembah-Mu kerana tamak kepada syurga-Mu maka haramkanlah aku daripadanya! Tetapi jika aku menyembah-Mu kerana kecintaanku kepada-Mu maka berikanlah aku balasan yang besar, berilah aku melihat wajah-Mu yang Maha Besar dan Maha Mulia itu.”
Begitulah keadaan kehidupan Rabi’ah yang ditakdirkan Allah untuk diuji dengan keimanan serta kecintaan kepada-Nya. Rabi’ah meninggal dunia pada 135 Hijrah iaitu ketika usianya menjangkau 80 tahun. Moga-moga Allah meredainya, amin!
Sekarang mari kita tinjau diri sendiri pula. Adakah kita menyedari satu hakikat yang disebut oleh Allah di dalam Surah Ali Imran, ayat 142 yang bermaksud:
“Apakah kamu mengira bahawa kamu akan masuk syurga padahal belum nyata bagi Allah orang yang berjihad di antaramu dan belum nyata orang yang sabar.”
Bagaimana perasaan kita apabila insan yang kita kasihi menyinggung perasaan kita? Adakah kita terus berkecil hati dan meletakkan kesalahan kepada insan berkenaan? Tidak terlintaskah untuk merasakan di dalam hati seumpama ini:
“Ya Allah! Ampunilah aku. Sesungguhnya hanya Engkau yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Hanya kasih-Mu yang abadi dan hanya hidup di sisi-Mu sahaja yang berkekalan. Selamatkanlah aku daripada tipu daya yang mengasyikkan.”
Sesungguhnya apa juga lintasan hati dan luahan rasa yang tercetus daripada kita bergantung kepada cara hati kita berhubung dengan Allah. Semakin kita kenali keluhuran cinta kepada Allah, maka bertambah erat pergantungan hati kita kepada Allah serta melahirkan keyakinan cinta dan kasih yang sentiasa subur.
Lanjutan itu jiwa kita tidak mudah berasa kecewa dengan gelagat sesama insan yang pelbagai ragam. Keadaan begini sebenarnya terlebih dahulu perlu dipupuk dengan melihat serta merenungi alam yang terbentang luas ini sebagai anugerah besar daripada Allah untuk maslahat kehidupan manusia. Kemudian cubalah hitung betapa banyaknya nikmat Allah kepada kita.
Dengan itu kita akan sedar bahawa kita sebenarnya hanya bergantung kepada Allah. Bermula dari sini kita akan mampu membina perasaan cinta terhadap Allah yang kemudian mesti diperkukuhkan dengan mencintai titah perintah Allah. Mudah-mudahan nanti kita juga akan menjadi perindu cinta Allah yang kekal abadi.
Tokoh Sufi, Rabiah Al-Adawiyah terlahir dari sebuah keluarga yang serba kekurangan, namun dia muncul menjadi sosok sufi wanita terkenal yang selalu dielu-elukan karomahnya oleh golongan pengikut ahli tasawuf ini.
Tokoh wanita yang satu ini lebih dikenal sebagai seorang pendiri “agama cinta” (mahabbah) dan ia pun dikenang sebagai “ibu para Sufi besar” (The Mother of the Grand Master). maka dibawah ini saya sarikan beberapa Syair Cinta Sufi Rabiah Al-Adawiyah Al-Bashriah, semoga dapat mempertebal rasa kecintaannya kepada Sang Maha Pecinta….
Tokoh wanita yang satu ini lebih dikenal sebagai seorang pendiri “agama cinta” (mahabbah) dan ia pun dikenang sebagai “ibu para Sufi besar” (The Mother of the Grand Master). maka dibawah ini saya sarikan beberapa Syair Cinta Sufi Rabiah Al-Adawiyah Al-Bashriah, semoga dapat mempertebal rasa kecintaannya kepada Sang Maha Pecinta….
Syair 1
Tuhanku, tenggelamkan aku dalam cintaMu
Hingga tak ada satupun yang mengganguku dalam jumpaMu
Tuhanku, bintang gemintang berkelip-kelip
Manusia terlena dalam buai tidur lelap
Pintu pintu istana pun telah rapat
Tuhanku, demikian malam pun berlalau
Dan inilah siang datang menjelang
Aku menjadi resah gelisah
Apakah persembahan malamku, Engkau terima
Hingga aku berhak merengguk bahagis
Ataukah itu Kau tolak, hingga aku dihimpit duka,
Demi kemaha kuasaanMu
inilah yang akan selalau ku lakukan
Selama Kau beri aku kehidupan
Demi kemanusianMu,
Andai Kau usir aku dari pintuMu
Aku tak akan pergi berlalu
Karena cintaku padaMu sepenuh kalbu
Syair 2
Ya Allah, apa pun yang akan Engkau
Karuniakan kepadaku di dunia ini,
Berikanlah kepada musuh-musuhMu
Dan apa pun yang akan Engkau
Karuniakan kepadaku di akhirat nanti,
Berikanlah kepada sahabat-sahabatMu
Karena Engkau sendiri, cukuplah bagiku
Tuhanku, tenggelamkan aku dalam cintaMu
Hingga tak ada satupun yang mengganguku dalam jumpaMu
Tuhanku, bintang gemintang berkelip-kelip
Manusia terlena dalam buai tidur lelap
Pintu pintu istana pun telah rapat
Tuhanku, demikian malam pun berlalau
Dan inilah siang datang menjelang
Aku menjadi resah gelisah
Apakah persembahan malamku, Engkau terima
Hingga aku berhak merengguk bahagis
Ataukah itu Kau tolak, hingga aku dihimpit duka,
Demi kemaha kuasaanMu
inilah yang akan selalau ku lakukan
Selama Kau beri aku kehidupan
Demi kemanusianMu,
Andai Kau usir aku dari pintuMu
Aku tak akan pergi berlalu
Karena cintaku padaMu sepenuh kalbu
Syair 2
Ya Allah, apa pun yang akan Engkau
Karuniakan kepadaku di dunia ini,
Berikanlah kepada musuh-musuhMu
Dan apa pun yang akan Engkau
Karuniakan kepadaku di akhirat nanti,
Berikanlah kepada sahabat-sahabatMu
Karena Engkau sendiri, cukuplah bagiku
Syair 3
Aku mengabdi kepada Tuhan
Bukan karena takut neraka
Bukan pula karena mengharap masuk surga
Tetapi aku mengabdi,
Karena cintaku padaNya
Ya Allah, jika aku menyembahMu
Karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya
Dan jika aku menyembahMu
Karena mengharap surga, campakkanlah aku darinya
Tetapi, jika aku menyembahMu
Demi Engkau semata,
Janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajahMu
Yang abadi padaku
Aku mengabdi kepada Tuhan
Bukan karena takut neraka
Bukan pula karena mengharap masuk surga
Tetapi aku mengabdi,
Karena cintaku padaNya
Ya Allah, jika aku menyembahMu
Karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya
Dan jika aku menyembahMu
Karena mengharap surga, campakkanlah aku darinya
Tetapi, jika aku menyembahMu
Demi Engkau semata,
Janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajahMu
Yang abadi padaku
Syair 4
Ya Allah
Semua jerih payahku
Dan semua hasratku di antara segala
Kesenangan-kesenangan
Di dunia ini, adalah untuk mengingat Engkau
Dan di akhirat nanti, diantara segala kesenangan
Adalah untuk berjumpa denganMu
Begitu halnya dengan diriku
Seperti yang telah Kau katakana
Kini, perbuatlah seperti yang Engkau Kehendaki
Ya Allah
Semua jerih payahku
Dan semua hasratku di antara segala
Kesenangan-kesenangan
Di dunia ini, adalah untuk mengingat Engkau
Dan di akhirat nanti, diantara segala kesenangan
Adalah untuk berjumpa denganMu
Begitu halnya dengan diriku
Seperti yang telah Kau katakana
Kini, perbuatlah seperti yang Engkau Kehendaki
Syair 5
Aku mencintaiMu dengan dua cinta
Cinta karena diriku dan cinta karena diriMu
Cinta karena diriku, adalah keadaan senantiasa mengingatMu
Cinta karena diriMu, adalah keadaanMu mengungkapkan tabir
Hingga Engkau ku lihat
Baik untuk ini maupun untuk itu
Pujian bukanlah bagiku
BagiMu pujian untuk semua itu
Aku mencintaiMu dengan dua cinta
Cinta karena diriku dan cinta karena diriMu
Cinta karena diriku, adalah keadaan senantiasa mengingatMu
Cinta karena diriMu, adalah keadaanMu mengungkapkan tabir
Hingga Engkau ku lihat
Baik untuk ini maupun untuk itu
Pujian bukanlah bagiku
BagiMu pujian untuk semua itu
Syair 6
Buah hatiku, hanya Engkau yang kukasihi
Beri ampunlah pembuat dosa yang datang kehadiratMu
Engkaulah harapanku, kebahagiaan dan kesenanganku
Hatiku telah enggan mencintai selain dari Engkau
Buah hatiku, hanya Engkau yang kukasihi
Beri ampunlah pembuat dosa yang datang kehadiratMu
Engkaulah harapanku, kebahagiaan dan kesenanganku
Hatiku telah enggan mencintai selain dari Engkau
Syair 7
Hatiku tenteram dan damai jika aku diam sendiri
Ketika Kekasih bersamaku
CintaNya padaku tak pernah terbagi
Dan dengan benda yang fana selalu mengujiku
Kapan dapat kurenungi keindahanNya
Dia akan menjadi mihrabku
Dan rahasiaNya menjadi kiblatku
Bila aku mati karena cinta, sebelum terpuaskan
Akan tersiksa dan lukalah aku di dunia ini
O, penawar jiwaku
Hatiku adalah santapan yang tersaji bagi mauMu
Barulah jiwaku pulih jika telah bersatu dengan Mu
O, sukacita dan nyawaku, semoga kekallah
Jiwaku, Kaulah sumber hidupku
Dan dariMu jua birahiku berasal
Dari semua benda fana di dunia ini
Dariku telah tercerah
Hasratku adalah bersatu denganMu
Melabuhkan rindu
Hatiku tenteram dan damai jika aku diam sendiri
Ketika Kekasih bersamaku
CintaNya padaku tak pernah terbagi
Dan dengan benda yang fana selalu mengujiku
Kapan dapat kurenungi keindahanNya
Dia akan menjadi mihrabku
Dan rahasiaNya menjadi kiblatku
Bila aku mati karena cinta, sebelum terpuaskan
Akan tersiksa dan lukalah aku di dunia ini
O, penawar jiwaku
Hatiku adalah santapan yang tersaji bagi mauMu
Barulah jiwaku pulih jika telah bersatu dengan Mu
O, sukacita dan nyawaku, semoga kekallah
Jiwaku, Kaulah sumber hidupku
Dan dariMu jua birahiku berasal
Dari semua benda fana di dunia ini
Dariku telah tercerah
Hasratku adalah bersatu denganMu
Melabuhkan rindu
Syair 8
Sendiri daku bersama Cintaku
Waktu rahasia yang lebih lembut dari udara petang
Lintas dan penglihatan batin
Melimpahkan karunia atas doaku
Memahkotaiku, hingga enyahlah yang lain, sirna
Antara takjub atas keindahan dan keagunganNya
Dalam semerbak tiada tara
Aku berdiri dalam asyik-masyuk yang bisu
Ku saksikan yang datang dan pergi dalam kalbu
Lihat, dalam wajahNya
Tercampur segenap pesona dan karunia
Seluruh keindahan menyatu
Dalam wajahNya yang sempurna
Lihat Dia, yang akan berkata
“Tiada Tuhan selain Dia, dan Dialah Yang maha Mulia.”
Sendiri daku bersama Cintaku
Waktu rahasia yang lebih lembut dari udara petang
Lintas dan penglihatan batin
Melimpahkan karunia atas doaku
Memahkotaiku, hingga enyahlah yang lain, sirna
Antara takjub atas keindahan dan keagunganNya
Dalam semerbak tiada tara
Aku berdiri dalam asyik-masyuk yang bisu
Ku saksikan yang datang dan pergi dalam kalbu
Lihat, dalam wajahNya
Tercampur segenap pesona dan karunia
Seluruh keindahan menyatu
Dalam wajahNya yang sempurna
Lihat Dia, yang akan berkata
“Tiada Tuhan selain Dia, dan Dialah Yang maha Mulia.”
Syair 9
Rasa riangku, rinduku, lindunganku,
Teman, penolong dan tujuanku,
Kaulah karibku, dan rindu padaMu
Meneguhkan daku
Apa bukan padaMu aku ini merindu
O, nyawa dan sahabatku
Aku remuk di rongga bumi ini
Telah banyak karunia Kau berikan
Telah banyak..
Namun tak ku butuh pahala
Pemberian ataupun pertolongan
CintaMu semata meliput
Rindu dan bahagiaku
Ia mengalir di mata kalbuku yang dahaga
Adapun di sisiMu aku telah tiada
Kau bikin dada kerontang ini meluas hijau
Kau adalah rasa riangku
Kau tegak dalam diriku
Jika akku telah memenuhiMu
O, rindu hatiku, aku pun bahagia
Rasa riangku, rinduku, lindunganku,
Teman, penolong dan tujuanku,
Kaulah karibku, dan rindu padaMu
Meneguhkan daku
Apa bukan padaMu aku ini merindu
O, nyawa dan sahabatku
Aku remuk di rongga bumi ini
Telah banyak karunia Kau berikan
Telah banyak..
Namun tak ku butuh pahala
Pemberian ataupun pertolongan
CintaMu semata meliput
Rindu dan bahagiaku
Ia mengalir di mata kalbuku yang dahaga
Adapun di sisiMu aku telah tiada
Kau bikin dada kerontang ini meluas hijau
Kau adalah rasa riangku
Kau tegak dalam diriku
Jika akku telah memenuhiMu
O, rindu hatiku, aku pun bahagia
dari berbagai Sumber
GOSIP
| di 06.53
·
Asal Mula Gosip
Gosip adalah suatu tindakan percakapan yang bisa berbentuk lisan
atau tertulis, dimana seseorang menyampaikan suatu informasi, tetapi ia tidak
menjadi bagian dari informasi tersebut, dan ia juga bukan menjadi solusinya.
Percakapan itu bisa berbentuk sebagai suatu perbincangan sambil lalu saja, atau
perbincangan dengan tujuan untuk mendiskreditkan nama orang(-orang) lain. Gosip
sering mempunyai sepercik dasar kebenaran yang dipergunakan sebagai awal
percakapan oleh paling sedikit dua orang, tetapi lebih sering perbincangan
tersebut berasal dari daya khayal mereka sendiri. Jadi bergunjing, terkadang
bisa mempunyai sebab-musabab, dan terkadang tidak.
Gosip adalah hasil produksi dari ketidak-mampuan seseorang untuk
mengendalikan lidah/mulut, ketidak-mampuan untuk menguasai diri/emosi,
kesombongan, rasa unggul diri (atau kebalikannya: rasa minder),
ketidak-sopanan, kekurang-ajaran, ketidak-sabaran, kemarahan, kekasaran,
keinginan untuk membalas dendam, dan yang paling utama: kecemburuan/iri hati!
Gossip adalah suatu informasi yang belum diteliti kebenarannya,
dalam Islam gossip disebut dengan prasangka atau persangkaan. Islam mengajarkan
kepada manusia untuk tidak berprasangka buruk tetapi harus selalu berprasangka
baik kepada orang lain. Meskipun prasangka buruk itu benar terjadi pada diri
seseorang maka prasangka tersebut disebut dengan aib. Aib ini kemudian harus
selalu disembunyikan dan tidak disebarkan kepada public.
·
Gosip Di
Lingkungan Kerja
Gosip disini dimaksudkan sebagai pergunjingan tentang seseorang. Konotasinya
bernuansa negatif. Misalnya membicarakan tentang aib seseorang seperti tentang
keburukan hubungan sosial, kinerja buruk, kedisiplinan kerja, komitmen kerja
dsb. Gosip bukan saja terjadi pada tataran horisontal namun juga vertikal.
Mislnya gosip tentang perilaku pimpinan unit seperti otoriter, kurang
memerhatikan kesejahteraan karyawan, banyak perintah dsb.
Latar belakang terjadinya gosip begitu beragam. Bisa karena sakit hati, dendam,
iri hati, kekesalan pada orang lain dsb. Tampaknya gosip ini seperti manusiawi.
Namun karena namanya membicarakan orang lain dari sisi negatifnya maka gosip
kalau dibiarkan akan mengganggu suasana kerja. Para karyawan merasa kurang
nyaman. Begitu juga pimpinan unit kerja. Ketika gosip terjadi maka perhatian
tiap karyawan tidak fokus pada pekerjaan. Selalu saja diliputi rasa khawatir
digosipkan seseorang.
Dalam keadaan demikian pimpinan unit katakanlah manajer harus segera bertindak.
Dia harus mengidentifikasi siapa saja sebagai biang keladi gosip. Menyangkut
hal apa sehingga terjadinya gosip. Dan mengapa itu bisa terjadi. Serta apa
akibatnya pada suasana kerja. Kalau sudah teridentifikasi maka manajer
hendaknya memanggil para karyawannya yang terlibat gosip. Disitu manajer
melakukan wawancara dan sekaligus menilai siapa yang memulai gosip. Kemudian
secara pendekatan personal dilakukan wawancara khusus dengan karyawan
bersangkutan. Dalam kondisi seperti ini manajer hendaknya bertindak arif.
Artinya yang dituju adalah penyelesaian masalah bukan memfokuskan pada pribadi
seseorang. Kecuali kalau sang penggosip berperilaku semakin gawat misalnya
sebagai menghasut dan melakukan tindakan kriminal.
Pihak manajer perlu melakukan tidakan administratif terhadap karyawan yang
perilakunya sudah mengarah pada keretakan hubungan antarkaryawan khususnya
antara karyawan penggosip dengan yang digosipi. Ada beberapa yang perlu
dilakukan yaitu mulai dari peringatan keras hingga pemecatan. Kalau perilakunya
tetap saja tidak berubah maka apa boleh buat, manajer mengusulkan pada
atasannya agar karyawan penggosip itu dipecat. Lebih baik memecat ketimbang
mendiamkan bakteri penyakit gosip yang akan menjangkiti proses dan hasil
pekerjaan. Dengan demikian suasana kerja bisa kembali nyaman dan kinerja
karyawan kembali pulih bahkan membaik. Pada gilirannya kinerja organisasi pun
juga meningkat.
·
Penyebab Orang Gampang Percaya Gosip
Pernahkah Anda melihat foto anjing yang sebesar kuda? Atau foto
seekor rusa yang sedang berada di atas tiang listrik? Semua iitu adalah
beberapa kejadian aneh. Tentu kita pernah mendengar cerita-cerita aneh atau
melihat foto-foto aneh, dan tanpa kita sadari semua itu telah menjadi bagian
dari kehidupan sehari-hari kita, bahkan jika semua itu belum jelas benar atau
bahkan benar-benar gosip. Setiap hari otak kita dibombardir dengan informasi,
banyak yang tidak benar, tapi dengan perlahan tersimpan baik dalam ingatan
kita.
Dan penelitian terbaru menunjukkan bahwa semakin sering kita
percaya bahwa sesuatu itu benar, maka semakin besar kemungkinannya sesuatu itu
akan muncul kembali di masa depan kita, bahkan jika kita telah tahu bahwa
sesuatu itu tidak benar. Menurut teori memori, otak menciptkan semacam
"dinding" untuk melindungi ide-ide yang ada dalam pikiran kita dari
gangguan informasi yang datang dari luar, termasuk gosip. Jadi, seseorang yang
sangat yakin bahwa pemahamannya benar harus melawan setiap usaha yang ingin
membuktikan bahwa pemahamannyanya itu salah.
Kelemahan otak terletak pada kecenderungannya untuk membenarkan
informasi (gosip) yang datang berulang-ulang. Umumnya, orang yang
mendengar gosip yang sama
berulang-ulang, secara tidak sadar berpeluang besar mempercayai gosip yang
didengarnya.
Setiap orang berhak percaya atau tidak percaya terhadap informasi
tertentu. Dari penelitian itu juga ditemukan bahwa orang yang terbuka terhadap
koreksi atau kritik adalah orang yang termasuk dalam kategori tidak gampang
langsung percaya pada informasi baru yang belum jelas kebenarannya. Hal ini
disebabkan oleh pikiran mereka yang terbuka untuk mempertimbangkan terlebih
dahulu apakah informasi baru itu sudah benar atau salah.
·
Penyebab Orang Membicarakan Anda
1. Anda Berprestasi
Dalam banyak kasus, orang akan berbicara di belakang
Anda ketika Anda telah mencapai sesuatu yang mereka tidak bisa capai. Ini
sebetulnya adalah kemajuan yang patut ditiru, dimana memicu pembicaraan di
belakang Anda. Masyarakat yang cenderung tradisional seringkali bergosip
tentang sekolah, perguruan tinggi atau tempat kerja dan profesi anda. Hal ini sangat
mungkin menjadi alasan mengapa orang bergosip di belakang Anda. Bisa jadi
orang-orang tersebut tidak bisa menyamai anda.
Mari kita ambil contoh anda bekerja sebagai penyanyi
atau anak band. Penulis tidak akan berdebat tentang apakah anda adalah seorang
penyanyi yang baik atau tidak. Tapi bukankah kita melihat pandangan miring
masyarakat tentang seorang penyanyi? Seringkali tetangga kita mencemooh “Mau
jadi apa kalau tiap hari ngeband?” atau “Lihat tuh si mimin, kerjanya pulang
mpe pagi,, jangan-jangan ups…!”. Masih banyak lagi contoh status pekerjaan yang
dicibir oleh masyarakat. Mereka hanya mau tahu kalau bekerja ya di kantor,
TITIK!
2. Cemburu pada Hal-hal Baik dalam Hidup Anda
Mari kita mulai ini dengan contoh klasik. Mr X menjadi
personalia dalam waktu kurang dari 6 bulan, Mr X akan dipromosikan dan menjadi
manajer. Mr Y dan Miss Z telah bekerja di perusahaan sejak 2 tahun terakhir dan
telah menantikan untuk dipromosikan ke pos yang sama. Tapi Mr X mendahului
mereka, Mr Y dan Miss Z terus berbicara tentang Mr X di belakang punggungnya
sepanjang hari.
Dipromosikan di tempat kerja hanya contoh. Kenyataan
hidup yang berat adalah bahwa ketika orang menjadi cemburu pada sesuatu yang
telah anda terima, mereka akan terus berbicara di belakang Anda.
3. Mereka tidak memiliki sesuatu yang lebih baik dari
Anda
Fakta lain yakni orang-orang yang membicarakan Anda
adalah orang-orang yang tidak memiliki sesuatu untuk dilakukan untuk menjadi
seperti anda. Tentunya kita semua ingin hidup menjadi lebih produktif dan lebih
berarti, daripada bergosip dan mengeluh tentang orang lain. Hal ini menyebabkan
satu fakta sederhana. Hidup mereka yang sengsara dan menyedihkan!
·
Beberapa Tips Mengatasi Gosip
1. Tidak Perlu Melakukan Apa-apa
Hal pertama yang harus lakukan adalah mengakui dan
memahami tentang gosip tersebut, bahwa tidak ada yang dapat Anda lakukan. Anda
mungkin dapat untuk meyakinkan (klarifikasi) kepada orang yang berbicara
tentang Anda. Namun berapa banyak orang di lingkungan anda yang akan Anda coba
meyakinkannya? Apakah Anda tahu bahwa bahkan orang seperti Steve Jobs (pendiri
Apple) memiliki banyak kritikus dan bahkan pernah mengalami pemecatan. Poin
yang penulis tekankan adalah bahwa apa pun yang Anda lakukan dan seberapa baik
Anda dalam kehidupan, tetap akan ada orang yang berpikir BURUK tentang anda!
2. Pahamilah bahwa mereka sebenarnya TIDAK PEDULI
dengan Anda
Orang-orang yang berbicara di belakang Anda jelas
tidak penting dalam hidup Anda. Jika mereka benar-benar peduli, mereka akan
berada di sisi Anda, mendukung dan memberikan kritik membangun, bukan sekedar
‘ngerumpi’ bukan? Kebahagiaan sejati terletak pada kemajuan dan kesejahteraan
sebagai individu serta orang yang Anda cintai termasuk keluarga dan teman. So,
apa yang orang lain katakan dan pikirkan tidak akan mempengaruhi kehidupan
Anda. Sadarilah ini sebelum terlambat!
3. Tersenyumlah ketika Anda berjalan melewati Mereka
Pukulan terbesar bagi siapa saja bergosip di belakang
Anda adalah ketika melihat Anda berjalan dengan dengan senyum percaya diri
mengatakan, “Saya tahu Anda berbicara di belakang saya tapi saya tidak peduli”.
Anda juga bisa menertawakan gosip tsb, dan mengatakan “Ah, bisa aja jeng..?!”,
tunjukkan bahwa Anda tidak terpengaruh oleh pembicaraan mereka. Atau jangan
katakan apa-apa selain tersenyum seolah-olah Anda adalah orang paling bahagia
di dunia. Simple bukan?!
4. Jangan merasa menjadi Korban
Ketika
seseorang berbicara ‘buruk’, terkadang menimbulkan rasa gelisah, takut dan rasa
sungkan. Jika hal ini terjadi, maka anda telah menjadi “korban”. Yang harus
anda lakukan adalah mainkan peran sebagai lakon atau pemenang. Rayakan dan bagi
cerita kepada keluarga atau sahabat bahwa anda menjadi “selebritis”.
5. Membangun Hubungan Menyenangkan pada Lingkungan
Anda
Masalah yang terkadang menyebabkan anda tidak disukai
oleh orang-orang disekitar anda adalah anda cenderung individualis dan kurang
komunikatif dengan lingkungan sekitar. Oleh karena itu sedikit demi sedikit
bangunlah komunikasi yang menyenangkan dengan orang-orang di sekitar anda.
Dengan menunjukkan sikap yang menyenangkan, ‘stereotip’ jelek tentang diri anda
sedikit demi sedikit akan pupus, dan sontak mereka berkata “Oh si Anu baik koq,
humoris… ternyata ngga seperti yang kita duga jeng….?!?!”.
6. Rencanakan Konfrontasi dengan Baik
Tidak selamanya konfrontasi dilakukan secara agresif,
anda bisa melakukan pendekatan yang persuasif, karena konfrontasi agresif hanya
cocok bagi orang yang sangat siap secara mental. Caranya; dekatilah orang-orang
yang anggap ‘penting’ dan berpengaruh dalam sebuah kelompok orang yang sering
membicarakan anda. Lakukan pembicaraan dan bangunlah komunikasi dua arah. Jika
anda berhasil membangun simpatik dari orang tersebut, penulis yakin “pengikutnya”
pasti akan luluh juga.
·
Analisis gosip
Bahwa gosip atau ghibah dan fitnah bisa bersumber dari:
- orang-orang
yang punya banyak waktu luang
- orang-orang
yang suka menyombongkan diri
- orang-orang
yang merasa punya kekuasaan
- orang-orang
yang berusaha menutupi kejelekan/kelemahan mereka (sehingga orang lain
perlu dijelekkan dulu)
Langganan:
Postingan (Atom)




